Zara - Prolog
Prolog
‘Of Love
and Mercy, or Maybe Not’

Suasana di pejabat tingkat teratas Helios Corporations sunyi sepi. Dinding kaca yang memaparkan panorama mendung
kota New York mula dirintihi hujan saat petir menyambar nun di sana.
Cawan kopi yang berada di tangan setiausaha kepada CEO Helios Corps yang
sedang duduk ditempat duduknya hampir terlepas tatkala bunyi guruh menggegarkan
langit.
“What?” suara risau suaminya
boleh didengari di ganggang telefon.
“Nothing,” ujarnya sebelum
menutup agenda bosnya yang hampir-hampir saja dimandikan air kopi. “Why do
people even build their buildings so high up in the sky? It scares the hell out of me when it rains.”
Suaminya tersengih disebalik ganggang.
“How long will you be in Kuala
Lumpur again?”
Eloise Thompson menjungkitkan bahunya, “I don’t know. Could be a week,
maybe more.”
“What? You don't even know how long you're gonna be there?” soal suaminya, tidak
percaya.
“No, not yet. He said and I quote, 'the length of the trip is tentative'” Eloise menjeling ke arah pintu pejabat bosnya.
“Ugh, Ella, can you
not go? What about Rebecca?”
“What about Rebecca? WHAT ABOUT Rebecca?! Well maybe you can take care of her for once! I am your wife,
Nick! Not your maid!” ujarnya sebelum
menghempaskan ganggang. Wajahnya yang kemerahan penuh dengan kerutan saat dia
menyumpah suaminya, yang baginya amat mementingkan diri. Suaminya sedang berada di Beijing untuk satu conference. He could, but she couldn't. Pfft.
Rebecca ialah hamster peliharaan mereka, atau lebih tepat lagi, peliharaan
suaminya.
Dia mengeluh sambil melontarkan pandangan sekali lagi ke arah pintu
pejabat bosnya. Dia mengerling ke arah
jam tangannya, 4:50 pm. 10 minit lagi
sebelum berakhirnya waktu kerja.
Dia menekan punat di interkom, “Mr. Abrar-“
Suara yang dalam boleh kedengaran dari sebelah ganggang, “You can leave, Miss Thompson.”
“Thank you, Mr. Abrar. Have a good evening.”
Saat Eloise Thompson memasuki lift untuk ke lobby, tingkat teratas
bangungan tersebut menjadi sunyi.
Satu-satunya insan yang masih berada di tingkat tersebut sedang duduk
membelakangi pemandangan kota New York yang kian dibasahi hujan. Pejabat tersebut amatlah mewah, dihiasi
dengan perabot kayu yang elegan dan antik.
Sebuah chandelier lama menerangi pejabat tersebut dengan cahaya keemasan. Dalam sekilas pandang, pejabat tersebut
kelihatan megah namun sepi.
Dia meletakkan senaskah surat khabar berbahasa Melayu di atas mejanya
sebelum bersandar di kerusinya.
‘Skandal Rasuah Al-Yahya Enterprise’
